Tetanggaku Jalan Surgaku

Seorang da’i bercerita tentang laki-laki yang bermimpi di beri sebuah nomor rumah, agar menghubungi pemiliknya dan mengajaknya menunaikan ibadah Umrah bersamanya. Awalnya, mimpi itu dianggapnya sekedar bunga tidur. Tapi di hari berikutnya mimpi itu berulang. Maka ketika kali kedua ia bermimpi hal serupa, sang lelaki bertanya kepada imam masjid di dekat rumahnya soal makna mimpi tersebut. Si imam berkata, “Jika mimpi itu terulang lagi untuk ketiga kalinya, hapalkan nomornya dan lakukan pesan tersebut.”

Benar saja, mimpinya terulang lagi. Setelah bangun, nomor tersebut ia ingat-ingat lalu segera menghubungi pemiliknya. Lewat telepon ia menyampaikan, “Saudaraku, aku bermimpi bahwa aku diminta untuk mengajakmu melakukan umrah dan aku harus menunaikan perintah ini.” Orang yang di telepon tertawa mendengar tawaran dari lelaki yang tak dikenalnya. “Umrah apa? Engkau harus tahu, bahwa sejak beberapa tahun ini aku tidak pernah malaksanakan shalat apapun.” tegasnya dengan nada heran.

Tetapi lelaki itu bersikeras, “Aku harus membawamu umrah karena ini perintah. Aku tidak bisa menolaknya, dan engkau harus membantuku dalam hal ini.” Karena terus didesak, akhirnya orang tersebut menyetujui dengan sebuah syarat, “Tapi engkau yang menanggung semua biaya perjalanan dan kebutuhan selama umrah, serta mengantarkanku kembali sampai di rumah.”

Lelaki tersebut menyepakati syarat itu dan berjanji akan menjemputnya beberapa hari kemudian. Hari yang ditentukan tiba dan mereka akhirnya bertemu. Rasa heran berkecamuk di kepala si lelaki karena ternyata orang yang hendak diajaknya umrah itu tidak tampak sama sekali rona keshalihan di wajahnya, rambutnya kusut, pakaiannya berdebu, bahkan terlihat seperti orang yang mabuk.

Dalam hati ia bertanya, “Kenapa aku diberi mimpi hingga tiga kali untuk mengajak umrah orang yang seperti ini??” Selanjutnya, setelah sampai di miqat, ia meminta orang itu untuk mandi dan memakai pakaian ihram. Dari situ mereka kemudian menuju Makkah untuk melakukan umrah bersama-sama. Usai menunaikan semua rangkaian umrah, termasuk mencukur rambut, mereka pun sepakat untuk pulang. Namun sebelum meninggalkan Makkah orang tersebut meminta kepada si lelaki untuk menunggu sejenak, karena ia hendak menunaikan shalat dua rakaat terlebih dahulu. Alasannya, ia khawatir ini menjadi kesempatan terakhirnya menginjak tanah haram.

Orang itu pun shalat, tapi sujudnya lama sekali. Tak sabar menunggu, si lelaki menghampiri, tapi ternyata dia telah meninggal dalam sujudnya. Lelaki tersebut begitu sedih, bercampur iri, seperti juga orang-orang yang melihat kejadian itu sama-sama iri, karena orang itu telah menutup perjalanan hidupnya di tengah shalat, saat sedang sujud di Masjidil Haram; masjid yang suci, dan tanah yang suci.

Tiga hari setelah kepergian orang itu, si lelaki menelpon istrinya, menanyakan amal shalih apa yang telah dilakukan almarhum suaminya sehingga memperoleh husnul khatimah yang membuat iri setiap orang shalih. Sang istri menjawab, “Saudaraku, demi Allah! Sudah beberapa tahun ini suamiku tidak pernah puasa, juga tidak pernah shalat. Teman satu-satunya hanyalah botol minuman keras, di rumah atau di luar rumah. Aku tidak mengetahui ada kebaikan pada dirinya kecuali hanya satu; kami bertetangga dengan seorang janda miskin dengan beberapa orang anaknya. Suamiku setiap malam membelikan makan malam untuk kami di rumah dan membelikan pula untuk mereka yang selalu dia antar sendiri hingga ke depan pintu mereka. Dan perempuan janda itu selalu menyambut pemberian suamiku di depan pintu dengan sebuah do’a, “Semoga malaikat Allah memberimu akhir hidup yang terbaik.”

Ternyata doa itu di dengar Allah. Dia yang berkehendak atas segala sesuatu, tidak menyia-nyiakan amal baik lelaki. Amal itulah yang memudahkannya bertemu dengan Penciptanya, dalam akhlak yang baik, diantarkan doa tetangganya. Setelah kebaikannya pada tetangga itu.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 274 Th. 13 Jumadil Akhir 1433 H

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *