Mengkreditkan barang dan meminta bunga

Pertanyaan
Assalaamu’alaikum 
Nama saya Tya. Langsung saja Ustadz, baru-baru ini saya menjalani bisnis dengan cara mengkreditkan barang-barang elektronik dan lain semacamnya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukumnya jika saya menetapkan bunga sebesar 20% dalam jangka waktu 4 bulan? Akan tetapi jika terjadi keterlambatan pembayaran, saya tidak menambahkan bunga tersebut. Apakah hal itu termasuk riba? Lalu bagaimana penyelesaiannya jika permasalahan itu bukanlah riba? Terimakasih
Wassalaamu’alaikum

Jawaban
Wa’alaikumussalaam
Saudari Tya, terimakasih atas pertanyaannya.
Berbisnis dengan cara mengkreditkan barang elektronik dan macam sebagainya sebenarnya tidak ada masalah. Bahkan transaksi tersebut dapat dijadikan sebagai aplikasi dari Al Murobahah. Karena dalam transaksi tersebut benar-benar ada barang yang diperjualbelikan yang merupakan syarat mutlak untuk sebuah jual beli. Hanya saja jangan menggunakan istilah bunga untuk hal tersebut, melainkan kita pakai istilah keuntungan.  Karena antara bunga dan keuntungan ada perbedaan (di sinilah urgensi firman Allah yang menjelaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba).

Adapun besarnya keuntungan secara khusus tidak ditentukan oleh syar’i asalkan saling ridho antara penjual dan pembeli. Meskipun begitu haruslah tidak ada pihak yang merasa terdholimi maupun mendholimi. Maka nilai keuntungan haruslah disepakati oleh kedua belah pihak dengan keikhlasan hati.

Kemudian berkenaan dengan kemunduran angsuran yang tidak dibebani bunga (baca : keuntungan) itu sudah tepat. Karena kalaulah kemunduran angsuran kemudian dibebani tambahan keuntungan, maka itu masuk ke dalam riba jahiliyah.

Wallahu a’lam bissowab, demikian sedikit penjelasan dari saya, semoga ada hikmah dan manfaatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *