Bagaimana Cara Sewa Lahan Pertanian Menurut Islam?

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kepada Yth : Buya Hadi Nashir
di tempat

Perkenalkan nama saya Wawan. Saya adalah pemilik lahan cabai yang dikelola orang lain dengan kesepakatan pengelola membayar sewa lahan per 200 kg pada masa panen. Jika panen kurang dari 200 kg, maka bagaimana kewajiban pembayaran sewa tersebut? Dan apakah dalam Islam hal ini diperbolehkan?

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saudara Wawan yang kami hormati.

Berdasarkan pertanyaan saudara, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut :

  1. Jika akad (perjanjian) penggunaan lahan adalah syirkah (musyarokah) seberat 200 kg (bukan “senilai” 200kg, karena pertanyaannya menggunakan ukuran berat) berarti modal penyertaan pemilik lahan adalah seberat 200 kg. Maka jika dalam pelaksanaannya hasil panen cabai tidak mencapai seberat 200 kg, maka sewa
    penggunaan lahan diperhitungkan berdasarkan nisbah yang telah disepakati dalam akad. Artinya, besaran porsi nilai lahan jika dibandingkan dengan biaya-biaya pengolahannya (dalam hal ini termasuk juga biaya tenaga kerja) hingga saat panen itu berapa, sehingga dapat diketahui perbandingannya. Dan dari nilai perbandingan tersebut dapat ditentukan seberapa besarnya pengguna lahan harus menunaikan kewajibannya kepada pemilik lahan. (Dalam hal ini pemilik lahan ikut menanggung resiko kerugian yang diderita sebesar porsinya, jika memang dalam akad disebutkan demikian.
  2. Jika dalam akad penggunaan lahan menggunakan akad sewa (ijarah), maka seberapapun besarnya hasil panen, penyewa lahan wajib membayar penuh seberat 200 kg kepada pemilik lahan. (Ingat kaidah al muslimuuna ‘ala syurutihim = seorang muslim itu terikat syarat yang ada dalam perjanjiannya). Kecuali jika di dalam akad ada klausul yang memuat tentang masalah tersebut secara tersendiri, maka penyelesaian masalah tersebut juga mengikuti klausul tersebut.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Wallau a’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *